Tari Kele Ciamis: Menari Bersama Nilai, Mendidik Generasi Lewat Kearifan Lokal
DOI:
https://doi.org/10.56832/pema.v5i3.2371Keywords:
Tari Kele, Etnografi, Pendidikan Karakter, Kearifan Lokal, Ciamis.Abstract
Arus globalisasi telah memicu kekhawatiran akan terjadinya "amnesia budaya" di kalangan Generasi Z, yang berpotensi memudarkan identitas kolektif bangsa. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap struktur nilai filosofis dalam Tari Kele di Kabupaten Ciamis dan bagaimana nilai-nilai tersebut diinternalisasikan sebagai model pendidikan karakter bagi generasi muda. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan desain etnografi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam dengan Ibu Rachmajati Nilakoesoemah (Neng Peking) selaku pencipta tarian di Studio Titik Dua, Ciamis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Kele berfungsi sebagai "laboratorium moral" yang menyosialisasikan etika hidup manusia Sunda terhadap lingkungan dan sesama. Simbolisme air dalam properti kele melambangkan kejernihan pikiran dan tanggung jawab, sementara penggunaan flora sakral seperti daun Hanjuang dan Waregu merepresentasikan perlindungan serta resiliensi budaya. Melalui struktur gerak yang kronologis dan pola latihan berbasis kekeluargaan, nilai-nilai Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh dapat diinternalisasikan secara organik, yang terbukti meningkatkan kedisiplinan dan ketenangan batin para penari remaja. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Tari Kele bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan media dinamis yang mampu beradaptasi dengan teknologi digital untuk memperkuat jati diri bangsa. Rekomendasi penelitian ini adalah integrasi model pembelajaran Tari Kele ke dalam kurikulum muatan lokal guna memberikan pengalaman afektif yang autentik bagi peserta didik.









