Penerapan Metode Sabak, Sabki, Manzil Dalam Menghafal Al-Qur'an 30 Juz di Pesantren Nuur Ar Radhiyyah
DOI:
https://doi.org/10.56832/mudabbir.v5i2.2449Keywords:
Tahfidz Al-Qur’an, Sabak, Sabki, ManzilAbstract
Menghafal Al-Qur’an merupakan aktivitas keilmuan dan spiritual yang membutuhkan proses pembelajaran terstruktur, konsisten, serta didukung oleh metode yang tepat agar hafalan dapat diperoleh, dijaga, dan dikembangkan secara berkelanjutan. Dalam konteks pendidikan pesantren, keberhasilan program tahfidz sangat dipengaruhi oleh strategi pembelajaran yang diterapkan, termasuk pemilihan metode yang sesuai dengan karakteristik santri. Pesantren Nuur Ar Radhiyyah menerapkan metode Sabak, Sabki, dan Manzil sebagai pendekatan utama dalam membina kemampuan hafalan Al-Qur’an santri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi yang melibatkan pimpinan pesantren, guru tahfidz, serta santri sebagai sumber data utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Sabak berfungsi sebagai tahapan awal dalam proses penambahan hafalan baru secara sistematis dan terarah, metode Sabki berperan dalam memperkuat hafalan yang telah diperoleh melalui pengulangan yang terencana dan berkesinambungan, sedangkan metode Manzil berfungsi menjaga stabilitas hafalan jangka panjang agar tetap terpelihara dengan baik. Penerapan ketiga metode tersebut didukung oleh pengelolaan waktu yang disiplin, pendampingan intensif oleh guru tahfidz, pembiasaan muroja’ah dalam aktivitas harian santri, serta evaluasi berkala terhadap capaian hafalan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi metode Sabak, Sabki, dan Manzil tidak hanya berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hafalan Al-Qur’an dari segi kelancaran, ketepatan bacaan, dan konsistensi hafalan, tetapi juga membentuk sikap disiplin, tanggung jawab, serta kemandirian santri dalam proses belajar. Dengan demikian, penerapan metode tersebut terbukti efektif dalam mendukung keberhasilan program tahfidz Al-Qur’an dan dapat dijadikan sebagai model pembelajaran tahfidz yang aplikatif dan berkelanjutan di lingkungan pesantren.










