Analisis Ekologis Burung Hantu (Strigiformes) di Kawasan Mata Ie Kabupaten Aceh Besar
DOI:
https://doi.org/10.56832/edu.v5i2.1511Kata Kunci:
Burung Hantu (Strigiformes), Ekologis, Kawasan Mata IeAbstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek ekologis tiga spesies burung hantu (Strigiformes), yakni Tyto alba, Otus lempiji, dan Ketupa ketupu di kawasan Mata Ie, Kabupaten Aceh Besar. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, serta dokumentasi GPS dan pencatatan koordinat spasial. Hasil menunjukkan Tyto alba dominan pada habitat semi-terbuka yang dekat dengan pemukiman, sementara Otus lempiji dan Ketupa ketupu lebih memilih hutan sekunder dan kawasan riparian alami. Ketiga spesies menunjukkan preferensi ekologis berbeda yang dipengaruhi oleh struktur vegetasi, ketersediaan air, serta intensitas gangguan manusia. Studi ini menyoroti peran penting burung hantu dalam pengendalian hayati dan sebagai indikator kualitas habitat. Hasilnya diharapkan mendukung upaya konservasi berbasis masyarakat dan pendidikan lingkungan lokal yang partisipatif serta berkelanjutan.Referensi
Astuti, T. R., Supriatna, J., & Rachman, A. (2020). Keanekaragaman dan sebaran burung nokturnal di kawasan agroekosistem perdesaan. Jurnal Ekologi Nusantara, 8(2), 115–124.
Azizah, N., Rinaldi, M., & Amalia, S. (2023). Persepsi masyarakat terhadap mitos burung hantu dan implikasinya terhadap konservasi. Jurnal Sosiologi Lestari, 5(1), 140–150.
Fadeeva, A. (2020). Morphological adaptations in owl feather microstructure for silent flight. Journal of Avian Biology, 51(6), 780–788.
González?Suárez, M., Gomez, A., & Revilla, E. (2020). Habitat flexibility as a driver of resilience in carnivorous birds: A global synthesis. Ecological Indicators, 113, 105–117.
Hasanah, R. (2022). Fragmentasi habitat dan ancaman keberlangsungan populasi burung hantu di Indonesia. Jurnal Biologi Tropis, 20(1), 45–50.
Millon, A., Petty, S. J., Lambin, X., & Blondel, J. (2021). Nocturnal raptors as natural pest control agents: A review of their ecological services in agricultural systems. Ecological Applications, 31(4), e02345.
Moirangthem, K., Sharma, D., & Devi, L. M. (2022). Riparian raptors as indicators of water quality and vegetation integrity in South Asian river systems. Tropical Ecology, 63(3), 345–359.
Murgianto, D., Sutrisno, H., & Dewi, R. (2022). Peran Tyto alba dalam pengendalian hama tikus pada ekosistem pertanian intensif. Agroekologi Indonesia, 10(1), 55–64.
Nugroho, P., Saputra, H., & Pertiwi, N. (2023). Strategi konservasi burung hantu berbasis data lokal: Studi kasus di Aceh Besar. Jurnal Konservasi Fauna Nusantara, 9(2), 15–23.
Puan, C. L., Azhar, B., & Zakaria, M. (2015). Nocturnal bird diversity in tropical forest fragments and agricultural landscapes of Borneo. Bird Conservation International, 25(2), 200–215.
Pujiono, P., Wibowo, A., & Suryani, D. (2021). Estimasi distribusi spesies burung di agroekosistem menggunakan pendekatan kehadiran relatif. Jurnal Konservasi Hayati, 5(2), 99–108.
Scheffers, B. R., Yong, D. L., Harris, J. B. C., Giam, X., & Sodhi, N. S. (2021). The world’s rediscovered species: Back from the brink? PLoS ONE, 16(3), e0247756.
Setyawan, D., & Arbi, R. (2023). Habitat riparian dan fungsi ekologis burung Ketupa ketupu sebagai bioindikator kualitas air. Jurnal Ekologi Tropika, 12(1), 110–120.
Utami, N. S., Lestari, R., & Widodo, W. (2021). Distribusi dan preferensi habitat burung hantu di lanskap perbukitan. Jurnal Hayati, 18(3), 210–220.
Wiyono, A., Handayani, D., & Ramadhan, Y. (2020). Adaptasi ekologis burung hantu dan peranannya dalam ekosistem pertanian. Jurnal Sains Kehutanan, 14(1), 25–32.
Yee, A. T. K., Sodhi, N. S., & Lin, Y. K. (2016). Acoustic detection of nocturnal owls in tropical secondary forests. Raffles Bulletin of Zoology, 64, 122–130.



