Perbandingan Representasi Individu dan Struktur Sosial dalam Makam Para Pembangkang dan Seribu Kunang-Kunang di Manhattan: Sebuah Kajian Sosiologi Sastra
DOI:
https://doi.org/10.56832/mudabbir.v5i2.2153Keywords:
Keterasingan, Sastra Bandingan, Kekuasaan, Ruang Simbolik, ModernitasAbstract
Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi keterasingan dalam cerpen “Makam Para Pembangkang” karya Indra Tranggono dan “Seribu Kunang-kunang di Manhattan” karya Umar Kayam melalui pendekatan sastra bandingan. Berlandaskan teori Wellek dan Warren mengenai keterkaitan karya sastra dengan konteks sosial dan sejarah, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana simbol ruang, latar, dan pengalaman tokoh merepresentasikan tekanan kekuasaan yang membentuk keterasingan manusia. Hasil analisis menunjukkan bahwa “Makam Para Pembangkang” menggambarkan keterasingan yang lahir dari represi politik, terutama melalui simbol makam, penghapusan identitas, dan kontrol negara atas sejarah. Sebaliknya, “Seribu Kunang-kunang di Manhattan” memperlihatkan keterasingan yang bersumber dari kapitalisme dan kehidupan urban modern yang menimbulkan jarak emosional, keretakan relasi sosial, serta kegelisahan identitas. Perbandingan kedua cerpen memperlihatkan persamaan berupa keterputusan manusia dari lingkungan sosialnya, namun berbeda dalam akar penyebab dan cara kekuasaan bekerja. Penelitian ini menegaskan bahwa sastra berperan sebagai medium kritik sosial yang mengungkap bagaimana kekuasaan baik politik maupun kapitalistik—membentuk pengalaman keterasingan individu.










