Analisis Sosial Budaya Terhadap Perbedaan Tingkat Fertilitas di Provinsi Sumatera Utara Berdasarkan Hasil Long Form Sensus Penduduk 2020
DOI:
https://doi.org/10.56832/mudabbir.v5i2.2094Kata Kunci:
Fertilitas, Sosial Budaya, Sumatera Utara, Demografi, SP2020Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor sosial dan budaya terhadap perbedaan tingkat fertilitas antar kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara berdasarkan Long Form Sensus Penduduk 2020 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Pendekatan penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan memanfaatkan data sekunder berupa Total Fertility Rate (TFR) dan Age-Specific Fertility Rate (ASFR) untuk memahami konteks sosial budaya di balik variasi angka kelahiran. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat fertilitas di Sumatera Utara bervariasi secara signifikan antara wilayah perkotaan dan perdesaan. Kota Medan memiliki TFR terendah yaitu 1,90, sedangkan Kabupaten Nias Barat mencatat TFR tertinggi sebesar 3,42. Perbedaan ini tidak semata-mata disebabkan oleh faktor ekonomi, tetapi lebih banyak dipengaruhi oleh faktor sosial budaya seperti tingkat pendidikan, norma keluarga, sistem nilai terhadap anak, dan struktur ekonomi masyarakat. Wilayah perdesaan yang masih mempertahankan nilai tradisional menunjukkan kecenderungan memiliki banyak anak, sementara wilayah perkotaan yang lebih modern menunjukkan pola keluarga kecil.










